Tika aku di sini

Tika aku di sini
Memandangmu, menunggumu, memanggilmu, merinduimu, mencarimu, mendakapi, berbicara denganmu, melagu pilu. Syukurku atas pertemuan itu, redhaku atas perpisahan itu, doaku yang terbaik buatmu..amin

Bisikan ombak..

Pada nyanyian ombak malam yang memukul pantaiku cuba coretkan sebuah harapan sebuah nukilan....dan perasaan yang tidak pernah luntur dari sudut hati, mesra pada senyuman…

Tidak hairan akan mereka yang tidak sudi mendengar…entah pada siapa ingin ku tuju coretanku..Entah lurus entah tidak bicara ku…ada budi ada ingin ada sudi berbicaralah kita..

Walaupun pada nada dan irama yang berbeza..Sukarnya meramal perasaan ku sendiri…zahirku tidak terucap..Demi masa berjalan gagah…ku susuri dengan lesu. Ku kutip ku atur dengan penuh ketabahan. Ku susun ku kumpul menjadi simpulan madu, menjadi ukiran kukuh dan menjadi hiasan pujukan jiwa…

Bisikan rasa..

Bila hati menyentuh rasa yang sama, jiwa melahirkan perasaan yang indah.. Bila kata mengusik minda akal mengujudkan reaksi berbeza.. Hati, jiwa, akal dan minda bersimpul mati menjadi satu.. Carilah sebutir permata dalam timbunan kaca walaupun dijarimu terluka.. tiada cinta yang lebih hakiki selain cinta Ilahi…

Bisikan perindu...

Rindu ku susut di celah nyanyi angin kasih, kutaruh di pura waktu, bermusim ku simpan resah. Biar waktu dan pasir itu berserakan. Biarkan cahaya itu memancar menyala pada suram alam maya.

Engkau tiba bagaikan pelangi, tak bercahaya namun kau berseri. Tapi cukup menghiburkan hati ini... Seharian bersamamu tak terasa saat yang berlalu. Bagai pelangi petang kau kan pergi jua...

Wednesday, March 28, 2007

Luka Yang di Lukai


Luka Yang di Lukai

Kalau luka jari kakimu
tersepak batu,
kulitmu berlumur
darah menyembur,
bangun kau!
Jangan kau gentar pada batu.
Dengan tanganmu
baling seterumu sejauh mau.

Jangan kau biar bisa di kaki
menular meracun hati.

Batu semacam itu akan terus ada
menyekat jalanan mu di mana-mana
Kau harus waspada
mengorak langkah setiap masa.

Lihatlah, pada jari kakiku
yang sering terlanggar batu.
Lukanya sudah lama berlalu.
Parutnya masih di situ.
Bagiku, luka tidak bisa lagi
Alah batu kerana biasa.

Kalau tikanya tiba
bisa di kakimu mencengkam jiwa,
datanglah kau pada airmataNya
kerana disitu kau akan ketemu
pengubat segala yang terlara!
"When you REALLY want something, sometimes you have to swim a little deeper....You can't give up just because things don't come easy...You have to overcome the obstacles and face your fears...

But in the end, it's all worth while! Life is full of ups and downs, but if you believe in yourself you will always come through with flying colors.

Value friendship, love, and faith. Never underestimate yourself. If you follow this advice you can never go wrong!"


nasihat seorang sahabat...
Cinta

jika ditanya tentang cinta
macam-macam lah jawapan nya
ada cinta yang bawa ceria
ada cinta yang sanggup merana
sanggup berkorban apa saja
hilang kawan hilang keluarga
lebih baik cinta pada yg Esa

hidup ini penuh pancaroba
kiri kanan masalah saja
jangan lah derita kerna cinta
kerana cinta bahagia

kalau benar cinta itu buta
siapa kah jadi mangasanya
kalau cinta itu cinta setia
nangis ketawa sama hahahah
kalau kita boleh beli cinta
berapa pula harga nya
alangkah indah kita dicinta
kerana hidup kita lebih bahagia....



Misteri Cinta

sungguh suatu misteri, mengapa kita jatuh cinta. Juga suatu misteri, bagaimana itu terjadi. Bagaimana awal mulanya. Mengapa ada cinta yang terus tumbuh dan ada yang patah. Kita bisa menganalisis misteri ini, mencari alasan-alasan dan penyebabnya tapi dengan begitu kita justru jadi menyisihkan keindahan yang tersimpan dalam pengalaman tersebut.

Seperti halnya hidup ini bukan sekedar susunan tulang dan otot serta impuls-impuls elektris dalam tubuh manusia, cinta pun bukan sekedar hasil dari minat, daya tarik, dan persamaan-persamaan yang dimiliki oleh dua insan. Dan seperti halnya hidup ini merupakan pemberian yang datang dan pergi pada waktunya sendiri, kedatangan cinta pun mesti dianggap sebagai pemberian misterius yang tak bisa dipertanyakan selok-beloknya.

Setidaknya satu kali dalam hidup ini, anugerah cinta mendatangi kita dalam bentuk seutuhnya. Kita akan mengenggam dan menikmatinya dalam seluruh keindahan yang tak terkatakan. Inilah yang kita semua impikan. Tetapi lebih sering terjadi cinta itu datang mengenggam kita, menikmati kita sesaat, lalu pergi lagi.
Terlalu sering kita mencoba meraih cinta itu dan memenjarakannya, menolak untuk melihat bahwa cinta adalah anugerah yang diberikan dengan sukarela dan juga bisa pergi begitu saja.

Kalau cinta tidak lagi bersemayam di dalam hati, atau orang yang kita cintai merasa roh cinta itu sudah berlalu, terkadang kita berusaha keras merebut kembali cinta yang sudah lepas itu, bukannya menerima anugerah tersebut apa adanya, dan melanjutkan kehidupan. Pada saat itu kita menginginkan jawaban . Why? Kita ingin tahu apa yang salah dengan diri kita sehingga orang yang kita cintai tidak mencintai kita lagi. Kita berusaha keras memberikan arti atas apa yang terjadi, tapi tidak ada arti apapun di luar cinta itu sendiri.

Seandainya kita jatuh cinta pada seseorang dan orang tersebut tidak mencintai kita, bersikaplah baik pada diri kita sendiri. Tidak ada yang salah pada diri kita, hanya saja cinta tidak memilih untuk hinggap di hati orang yang kita cintai. Itu saja.

Kalau seseorang jatuh cinta pada kita dan kita tidak mencintainya, tersanjunglah bahwa cinta datang mengetuk di pintu, tapi tolaklah dengan lembut anugerah yang tidak dapat kita balas tersebut.

Kita semua bisa merasakan kepedihan dan kebahagian yang sama. Kalau kita jatuh cinta pada seseorang dan orang itu jatuh cinta juga pada kita, lalu cinta memilih untuk berlalu, jangan coba untuk meraihnya kembali, ataupun menilai siapa yang salah.

Biarkanlah berlalu. Pasti ada alasannya. Kita akan tahu pada waktunya, tapi biarlah waktu sendiri yang memilih saatnya.
Kita hanya bisa menerima saat cinta memasuki kehidupan kita dengan segala misterinya. Rasakan bagaimana cinta memenuhi diri hingga berkelimpahan, lalu ulurkan tangan dan lepaskan dia.
Kembalikan dia kepada orang yang telah menumbuhkannya di dalam diri kita. Cinta mempunyai waktunya sendiri, musimnya sendiri, dan alasan-alasannya sendiri untuk datang dan pergi. Kita tidak bisa menyuapnya, memaksanya atau membujuknya untuk tetap tinggal. Kita hanya bisa merangkulnya saat ia datang dan membaginya.
Tapi kalau ia memilih untuk pergi dari hati, tidak ada yang bisa kita lakukan. Berbahagialah ia datang dan tinggal sesaat dalam kehidupan kita. Kalau pintu hati kita biarkan terbuka, ia akan datang lagi.
zua april 2007

Tuesday, March 27, 2007


Kalaulah diri ini seperti embun, agaknya diri ini akan lebur sebelum fajar terbit. Ya Allah kiranya yang aku tanggung penuh luka ini adalah sesuatu yang sia-sia disisiMu, lenyapkanlah, padamkanlah….. namun kiranya rasa kasihku ini adalah dalam redhaMu, mekarkanlah selalu meskipun diri ini harus bertarung antara bahagia dan derita. Mungkin diri ini lemah daripada setitis embun… tiada kekuatan menghadapi malam yang gelap sepi dan dingin, malam yang tanpa kehadiran bulan dan bintang…. tiada kekuatan untuk menanti meskipun ada KESETIAAN di hati.

Dan perasaan itu sama ada bahagia atau cinta, derita atau kecewa, kalaulah boleh diambil dan dicampak sekehendak hati ini… maka pastinya tiadalah yang bernama derita. Tiadalah istilah sengsara. Cinta derita, bahagia dan kecewa ini sesungguhnya ialah anugerah yang mencorakkan insan seperti pelangi.

Bukanlah kudrat hamba melawan takdirNYa. Luka di hati memang Tidak terucap. Tidak tergambar. Tidak terluah hanya dengan kata-kata. Mata yang memandang, tidak sama dengan hati yang menahan tangisan perpisahan. Meskipun ibarat telah mati, malangnya jasad masih bernyawa, nadi masih berdenyut, darah masih merah mengalir. Lalu luka itu biarlah aku yang merasainya.

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, walau cinta adakalanya membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam. Dimana ada cinta disitu ada kehidupan; manakala kebencian membawa kemusnahan. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali sebuah kepercayaan.

KERANA cinta itu bukanlah sesuatu yang kita pinta. Semuanya lahir dengan kehendakNya Yang Maha Esa. Kehendak yang hanya datang dan pergi dengan izin daripadaNya.

Segala pintu masa lalu telah tertutup. Semua lorong serasa sunyi seolah tiada pernah berpenghuni…. pintu masa depan belum tiba. Terlalu sukar untuk memaafkan kesilapan hari kelmarin dan ketakutan untuk menempuh hari esok, kerana yang ada hanyalah hari ini… esok lusa belum tentu abady.
Lama aku berdialog dalam hati sendiri. Mempersembahkan pertanyaan demi pertanyaan dan permohonan demi permohonan kepada Allah Al-Haq. Aku cuba bangun dari sejadah, mengumpul semangat untuk bernafas seperti biasa. Aku gagal! Rasa rindu menguasai akalku. Lalu tanpa rasa putus asa, kugagahkan juga jasadku untuk bangun dan menuju ke pintu. Membuka pintu perlahan-lahan dan melabuhkan duduk ke kerusi yang terletak di beranda. Menyandarkan belakang ke kerusi, aku mendongak ke langit. Air mataku kembali bercucuran di pipi.

Aku cuba merapatkan kelopak mataku dan membukanya kembali. Berharap air jernih yang bertakung di kelopaknya akan jatuh dan aku mampu membiarkan cahaya purnama menerobos masuk ke dalam anak mataku. Namun air yang bergenang itu tidak mahu surut. Bertakung, menitis dan mengalir lagi sehingga semuanya kelihatan kabus di pandangan.

Sering kali aku berkata pada diri, tidak ada lagi yang menghargai diri ini. Tidak ada lagi yang menyayangi. Tidak ada lagi yang mahu menyingkap gelodak rasa yang membantai dada. Siapalah aku untuk dihargai, disayangi dan diambil hati. Yang mahu jadi sangga pada kecondongan ku. Kalau ada pun, tak mungkin hati dan diri ini mahu difahami.

Kusebut namanya dengan nada suara yang lahir dari hatiku yang paling dalam. Semakin aku berjuang untuk membuangnya, semakin aku gagal. Jadi biarlah kuikutkan kata hati ini. Menyebut namanya bertalu-talu. Hingga akhirnya tangisan lukaku berhenti dengan sendiri. Sesegar angin di sepertiga malam itu menyusup masuk ke liang romaku…..

Tuhan…
Walau kemana pun aku berlari
Walau kemana aku pergi
Walau aku terbang tinggi
Namun aku tetap begini
Mengharapkan ehsanMU Ilahi
Dalam mengejar cinta ini
Yang sarat dengan rindu hati
Maafkan aku
Tidak terkias pelangi tenang
Menyusuri dunia yang kau sentuh

Ingin lebih lama
Menyemai rindu kemboja
Ingin lebih lama merasakanmu lebih dalam
Dalam waktu detik
Sejauh bahkan ribuan hari
Aku ingin lebih dekat denganmu
Waktu yang semu
Yang banyak membunuh ruang
Yang kelewat tersisa untuk kita

Bukankah kau temukan sebuah hidup
Pijaklah rumput rumput hijau
Temukan jiwa kosong dalam mimpimu
Kelak mimpiku nanti terisi
Dan diisi jiwa jiwa dari masing masing kita

Kerana aku kekasih
dan engkau yang aku kasih
maka ku cipta bait bait indah
buat engkau wahai kekasih

Kerana aku kekasih
dan engkau yang aku kasih
ku cipta lagu rindu buat mu
biarpun mungkin sekadar berkumandang dijiwaku

Kerana aku kekasih
dan engkau yang aku kasih
ku cipta taman puisi semerbak mewangi
agar angin meniup cinta ku pada mu

kerana aku kekasih
engkau insan yang aku kasih
ku mahu engkau mengerti
yang cinta ku tak pernah berbelah bagi
Hanya untukmu…yang kucintai

z'2007

Thursday, March 22, 2007

Telah berapa hari langit menangis....sendirian merenungi titik titis yang menitis ku biarkan rintiknya mercik dikakiku....sejuk terasa ke tulang sum-sum...air yang mencurah turun mengalir ke longkang-longkang sehinggalah ke akhir pengalirannya...jika tidak itu kesudahannya bumi ini telah lama tenggelam memusnahkan sekaligus makhluk-makhluk yang menghuninya....dalam hujan yang masih menggila ku biarkan hatiku merawang jauh dengan keajaiban ciptaanNya....hujan yang mencurah bagai isi hati sendiri yang menangis dan menangis cuma bezanya airmataku yang mengalir tidak terus kelongkang-longkang....ada masanya menitis ke pipi ku sapu dengan jari jemariku...dan kadang bila mencurahnya menitis kuseka dengan bajuku sendiri...dan ada masanya jatuh jauh kedalam hatiku sendiri...ah!yaAllah apalah yang kutangiskan...jika hari ini aku berkata akulah manusia yang paling malang...malah dimasa yang sama cuma tempat yang berbeza ada lagi manusia yang lebih malang dari diriku sendiri...cuma belum aku temui, atas sebab itulah aku berkata hanya akulah yang paling malang ditika ini...

Tidak bersyukur kah aku pabila sering menangisi suratan nasib ku sendiri....?tidak redhakah aku dengan takdir Ilahi...?apalagi yang boleh aku katakan...selain bersyukur dan menerima pukulan nasib dengan rasa sabar...sabarkah aku...?hanya sanya Engkau yang lebih mengerti perit luka hatiku ini...ingin kukongsi dengan orang yang aku kasihi...tidak tergamak rasa hati membiar mereka merasa luka yang sama...bukan kerana kasih aku tak sanggup...bukan kerana kasihan aku mengagihkan rasa luka ini...tetapi perit lukanya jika aku sendiri merasakan tidak tertanggung apakah adil jika mereka juga kuheret sama untuk merasainya...kejamkah aku dengan membiarkan mereka juga merasa luka yang aku rasa...katanya, bahagia juga anugerah...luka juga punya anugerah...jika itulah yang dikata anugerah akan kudakap semuanya biar perit lukaku sirna berterbangan bertebaran diseluruh pelusuk isi alam ini....jika singgah dibumiMu yang bertuah jadilah pohon yang rendang berbuah....jika singgah dilautMu yang menghampar saujana jadilah pulau yang indah....

Ya Allah! Jadikanlah hujan ini sebagai nikmat dariMu buat kami dan janganlah Engkau jadikan hujan ini sebagai satu musibah atau bala ke atas kami. Hanya padaMu aku bermohon dan kepadaMulah aku minta tolong.Ya Allah! Siang telah berlalu dan kini malam datang menjelma. Matahari telah lama hilang berganti dengan bulan dan bintang. Rehatkanlah tubuhku dan tenangkanlah fikiranku. Dengan nama Engkau Ya Allah yang menghidup dan mematikan aku

Wednesday, March 21, 2007

Diantara kau dan aku....

Diantara kau dan aku...
Kututup kebimbanganku dengan kepastian diantara kita...

kurajut benang asmara atas nama cinta yang kita miliki...
kuberikan cinta, sayang, dan kepercayaanku kedalam hub kita,
agar kelak diantara kau dan aku tak ada lagi jarak yang membentang....
genggamlah aku dalam mimpimu
dan engkau dalam rinduku
sebelum kabut menyingkap
relakan nafas bersatu lagi..

aduhai hati..
sebenarnya lah engkau adalah pautan hati
sehingga nafas berhembus dalam gegar gemala
pantasnya engkau berdiam dalam kalbuku
dan aku dalam hatimu..
Dengan cengkerik yang terus bernyanyi dan kiranya merintih saat malam menjelang di antara gelap, menjulangnya pohon-pohon yang meliuk melambai, dan mahkluk-mahkluk malam tak tersebutkan. Dan malam ini, dengan harapan yang tinggi berserta doa pada Allah agar diberkati diberi secebis ketenangan ke dalam hati yang penuh keluh kesah ini. Rasa rindu yang direnjiskan ke dalam jiwa ini sentiasa membara walau di mana berada. Ya Allah!! Aku bermohon dengan berkat nama-namaMu, mukjizat nabi-nabiMu, dengan wasilah kekasihMu maka perkenankanlah doaku ini. Ya Ilahi!! Sesungguhnya Engkaulah tempat tujuan ku dan keredhaanMu yang kucari. Kurniailah aku hambaMu yang lemah ini dengan ketenangan agar tidak berkeluh kesah dengan duri ranjau kehidupan ini. Sungguh limpahilah daku dengan taufik dan hidayahMu agar perit jiwaku sirna dipuput bayu...dengan kuasa yang ada padaMu sisipkan kasih bayu dalam hati dan jiwa ini agar jiwaku tidak gelandangan dalam titik noktah bersama pencarian kasih...

Selamat datang! kasih.....sungguh aku amat merindukan mu.....jenguklah slalu jiwa yang selalu berkeluh kesah ini...damaikan jiwa itu dengan kasihmu...duduk-duduklah diserambi itu perhatikanlah dimana jiwa itu bermain selalu di hutan rahsia dengan kolam yang jernih airnya ikan-ikan bermain riang...tetapi kenapa jiwa itu masih menangis...?kenapa jiwa itu masih resah...?kenapa jiwa itu masih lara....?kenapa jiwa itu masih takut dengan lena diulit mimpi ngeri...? carilah kasih dimana dulu jiwanya yang damai...seperti pagi yang menyambut malam dengan riang..seperti bunga-bunga yang berkembang mekar selepas hujan malam...kemanakah jiwanya yang dulu..?

Jauh jiwaku merawang….bernyanyi sendiri di kesunyian. Di antara jalan-jalan panjang yang selalu kulewati, saat aku mencari jawapan akan kesunyian yang kusenandungkan. Jalan-jalan panjang yang selalu menyambut bingungnya hatiku, resahnya nafas, dan jantungku yang tak beristirehat dalam resah, memburu panas. Bercinta dengan jalan-jalan panjang yang berliku, panas membakar dan penuh rahsia seperti alam, dikelilingi dinding-dinding putih sisa keagungan dan kejayaan masa lalu. Dinding-dinding putih yang turut terjaga saat aku melewati jalan-jalan itu di kesunyian malam. Dinding-dinding yang bertanya mengapa jiwaku resah. Mengapa jiwaku tak beristirehat seperti jiwa-jiwa lain.

Aku tak boleh. Kataku. Jiwaku yang tenang disembunyikan sunyi dan laranya nafas. Aku tak boleh beristirehat sampai kunci kutemukan dan jiwaku tenang kembali. Jalan-jalan ini masih panjang, dan masih banyak yang belum kujalani. Jalan yang keras, panas, dan membahang saat siang. Jalan yang kelam, dingin, dan tak nampak berujung di sebuah titik saat malam bernyanyi dalam dakapan alam. Jalan-jalan ini masih ingin kujalani.

Mungkin kunci itu tercicir di salah satu jalan-jalan ini. Kunci yang membuka gerbang jiwaku yang tenang, agar nanti aku boleh mendamaikan jiwa ini dengan ketentuanNya.
Tak begitu banyak bertanya.

Mungkin nanti aku akhirnya boleh membuka kunci tenangnya jiwa, agar nanti aku tak takut jiwa ini terus bernafas dalam resah dan cemas. Aku lelah menjadi dan berjalan dalam cemas. Ratusan malaikat kematian menunggu mu mati, saat kau berjalan dalam cemas. Dunia yang biasanya sejuk dan tenang, akan menjadi panas dan membakar. Semua kerana cemas yang kau rasakan. Jiwamu tak beristirahat dengan tenang di antara segala kecemasan hidup.

Aku masih ingin berjalan di selusur jalan-jalan berliku ini. Siang, pagi, malam, saat petang menjelang. Berjalan hingga aku lupa wujudku. Berjalan hingga tubuh ini mengurus dan memucat. Berjalan hingga nanti saat itu kutemukan. Agar dahaga ini hilang, dan kunci ketenangan itu kutemukan. Dia, kunci itu, tak ada dihujung pelangi. Aku tahu hujung pelangi itu tak ada. Dan aku tak mau mencarinya kesana. Membuang waktu mencari di kaki pelangi, yang tidak ada.

Aku yakin, jalan-jalan ini akan menuntunku ke sana. Aku yakin masih banyak yang belum kulihat, dan kurasakan. Di antara malam, siang, pagi, dan saat petang menjelang-pasti kutemukan. Kunci itu. Pasti akan kutemukan. Di antara jalan-jalan ini. Di antara panas, dan dingin yang menyejukkan. Pasti akan kutemukan. Mungkin saat itu aku sudah memucat, mengurus, dan kehilangan senyum di balik wajahku. Tapi aku yakin, aku pasti menemukan kunci itu. Di jalan-jalan ini. Mungkin dibalik dinding-dinding putih itu.

Dalam duniaku yang bersinar di antara biru, putih, hitam, dan kelabu, aku masih menanti semuanya bersinar terang. Seirama dengan bulan, dan aku tahu hatiku akan terus hancur. Hati ini memang dibuat untuk itu. Cinta datang dan pergi, semuanya berlalu seperti angin. Aku masih merindukan seseorang itu, berjalan melewati waktu…..Hati ini akan terus terluka. Tak ada hati yang tak terluka.




Tuesday, March 20, 2007

Dikesempatan mentari ada, menyerlahkan kuning cahaya, memberi peringatan, buat makhluk semua, sebentar lagi kan gelita, gerimis lalu menyerlah rupa, adakah semua sudah bersedia?

Hadirmu pelangi senja, menyejuk minda memukau mata, bayu berhembus meniup rindu, gurindam luka menyiksa jiwa, kita menghitung jalurannya, cantik sungguh gabungan warnanya,..sungguh milik Allah semua kecantikan, keindahan dan kebahagiaan....
Ku tulis namamu di langit,
Hilang ditiup angin.
Ku tulis namamu di pantai,
Hilang di pukul ombak.
Tapi, bila ku ukir namamu di hati,
Ia akan kekal buat selamanya...

Jadilah manusia yang cantik jiwanya,kerana alam raya ini indah

Pemandangan bintang-bintang di langit sangatlah indah. Hal ini tidak dapat diragukan lagi. Keindahan yang sangat menarik hati. Keindahan selalu berubah dengan beraneka macam warna pada waktu yang berbeza-beza. Keindahan di pagi hari berbeza dengan keindahan di waktu maghrib. Keindahan waktu terbit matahari berbeza dengan keindahan waktu terbenam matahari. Keindahan malam purnama berbeza dengan keindahan malam tanpa cahaya rembulan. Keindahan langit yang cerah berbeza dengan keindahan langit yang diliputi awan. Bahkan keindahan itu berbeza pada jam tertentu dengan jam yang lain, pandangan tertentu dengan pandangan yang lain, dari bilik tertentu dengan bilik yang lain. Semua itu adalah keindahan dan semuanya harus dinikmati dengan renungan.

Bintang yang kelihatan menyendiri nun jauh di sana bagaikan mata yang indah berkilauan memancarkan kecintaan dan seruan. Dua bintang yang lain di tempat yang berbeza seolah-olah saling bersahutan. Kelompok-kelompok bintang yang lain bertebaran disana-sini, bagaikan kumpulan orang-orang yang sedang berbincang nun jauh di sana cakerawala langit.

Rembulan yang pada awal kemunculannya di suatu malam-malam berikutnya, hingga sampai pada puncak kebulatannya kelihatan begitu cerah. Setelah itu ia mulai berkurang dan mengecil, hingga kelihatan bagaikan di awal kemunculannya dan di malam terakhirnya ia hampir tidak muncul sama sekali.

Ruang angkasa ini tidak akan pernah membuat manusia bosan memandangnya dan pandangan manusia tidak akan sampai pada penghujungnya. Sesungguhnya itulah keindahan iaitu keindahan yang dimiliki oleh manusia untuk dinikmati. Akan tetapi manusia tidak dapat menggambarkan keindahan dan kebahagiaan yang mereka perolehi dengan untaian kata-kata.

Milik siapakah hati ini...

Tenanglah,segala sesuatu berjalan dengan ketentuan dan takdir

Tiada suatu kegembiraan pun yang engkau rasakan
bersifat kekal dan tiada gunanya bersedih hati
kerana ia tidak akan mengembalikan
orang yang tiada kepadamu

Sebahagian dari apa yang dikatakan Dale Carnegie, sebagai ganti dari iman terhadap qadha dan qadar adalah, bahawa seseorang sepatutnya berkata kepada orang-orang yang ditimpa musibah agar menghimpun semua tenaganya untuk menghadapi segala bencana, sebagaimana sikap sekumpulan kerbau dan batang kurma bila terluka. Kaedah yang disarankan oleh Dale Carnegie dapat dimaafkan apabila mengingatkan dia belum mengenal cara perubatan yang ada pada kita.

Suatu hari aku bersikap menolak untuk menerima urusan yang seharusnya aku hadapi. Aku merasa sangat bodoh. Akhirnya aku pun memberontak, membantah, marah dan mengubah malam-malam hariku menjadi sengsara yang membuatku susah tidur. Setelah mengalami penyeksaan psikologi, akhirnya aku menuruti kemahuan yang pasti itu, yang sejak awal aku tahu bahawa hal itu tidak boleh berubah. Kemudian aku mengingat apa yang telah dikatakan oleh seorang penyair:

Alangkah indahnya bila kuhadapi
kegelapan, hujan, kelaparan,
segala macam musibah,
kedukaan, cacian dan teguran
sebagaimana yang dihadapi oleh haiwan
dan sebagaimana yang dihadapi
oleh batang-batang pohon

Sesungguhnya aku pernah menghabiskan dua belas tahun umurku bersama haiwan ternakan. Aku tidak melihat seekor lembu betina yang kesusahan atau bersedih kerana padang rumput terbakar atau kering kerana sedikit hujan. Aku juga tidak pernah melihat ada sapi betina yang bersedih kerana ditinggalkan oleh sapi jantannya yang merayu sapi betina yang lain. Sesungguhnya haiwan menghadapi kegelapan, bencana, angin taufan dan kelaparan dengan tenang dan sabar. Oleh kerana itulah, jarang haiwan yang mengalami tekanan mental atau menderita pelbagai penyakit.

Aku..?sedihkah aku ditinggalkan...?
kompang dihati berpalu sendiri...

Sunday, March 18, 2007

Wahai Kasih Kekasih

Aduhai sayang……Mengapa rindu hati tidak tertahan tatkala kuntuman cinta mula mewangi. Bauannya memenuhi setiap ruang kehidupanku ini. Bagaimana mungkin dapat kutahan apabila ia mula semerbak di kamar malam sewaktu kesepian datang bertamu menjengok diri yang sendiri.

Wahai kekasih…..Sesungguhnya pepohon cinta ini kupagar rapi. Temboknya tinggi dari kalam Ilahi. Air siramannya sesejuk salji daripada keikhlasan hati di jalan suci. Bajanya kujaga sendiri dengan taqwa yang meliputi pintu kesedaran diri.

Wahai pujaan…..Ketahuilah olehmu bahawa cinta ini kuikat suci. Segalanya kuserahkan pada Ilahi untuk menentukannya. Aku hanya seorang manusia yang merancang Cuma dan demi Allah cinta ku ini hanyalah semata-mata kerana Dia. Dan kusandarkan cintaku pada mu ini dalam rangka mencari cintaNya Yang Maha Suci.

Aduhai penawar hati…..Aku ini manusia sepertimu jua. Tiada lebih di sisi Tuhan Yang Maha Tinggi manakan terdaya aku menahan ujian yang mendatang dan siapalah aku di sisiNya untuk mempertikaikan ketentuan dariNya. Di manakah tempatku di sisiNya apabila tiba saat pertemuan nanti. Sesungguhnya hanya doa yang mampu kulakukan bagi mengharap belas dan kasihanNya di hari yang tiada bayangan selain dari bayanganNya.

Wahai pengubat jiwa…..Betapa berharganya keindahan hidup ini tatkala bunga-bunga kematian mula berputik. Begitu bernilainya sebuah kesihatan pabila kengiluan mula menjalari seluruh urat saraf ini. Oleh itu, tiada lagi nilainya dunia ini selain dari mengharapkan keampunan Allah terhadap dosa-dosa lalu.

Aduhai kekasih, aduhai sayang……Mungkinkah ternoktah sudah ikatan cinta ini kiranya maut itu terlebih dahulu menyapaku? Mungkinkah kematianku ini menandakan bahawa tamatnya sebuah cinta suci yang telah terbina di atas dasar Ilahi ini? Atau pemergianku ini dengan membawa sebuah cinta yang tak kesampaian dan segeluk sayang yang bakal menjadi kenangan.

Dengarlah wahai penawar……Mahukah dirimu mendoakanku nanti tatkala aku berhempas pulas menjawab soalan malaikat yang bertanya? Mahukah engkau melapangkan kuburku sejauh mata memandang dengan doa-doamu atau hanya ingin membiarkan aku dihimpit kuburan sehingga berselisih kedua-dua tulang rusukku?

Aduhai pujaan…..Kini telah kubuktikan betapa sucinya cinta ini dengan membawanya bersama kematianku menuju ke lahad. Akan ku bawanya berjumpa tuhan Rabul Jalil untuk dinilaiNya cinta yang kusemai diatas cintaNya. Dan mahukah engkau membuktikan ketulusan cintamu padaku hanya keranaNya dengan mengirimiku segugus doa yang berkekalan dan berpanjangan rahmatNya ke atasku. Semoga dengan jasa ikhlasmu itu, tuhan mencatatkan bagimu di Luh sebuah pertemuan denganku nanti di sana disebabkan sucinya cintamu oleh kerana cintaNya Yang Maha Agung.
“Ampunkan aku ya Allah, ya Hannan, ya Mannan! Berikanlah aku kekuatan dan hidayah untuk mengharungi semua ini. Apalah ertinya aku hidup untuk mengasihi makhlukMu melebihi daripada aku mencintaiMu. Peliharalah diriku daripada terjerumus ke lembah itu, lembah yang menjauhkan kita, yang menjarakkan diriku daripada diriMu. Kerana bukan senang untuk memupuk cinta kepadaMu. Bukan mudah untuk meletakkan cintaMu dihatiku yang lemah lagi tak berdaya ini. Maka sekali ketakutan ini datang, lindungilah aku ya Allah. Lindungilah hambaMu yang tidak berdaya ini….”

Sesuatu yang dapat kita pelajari daripada sebuah percintaan yang berlandaskan sekeping hati suci ini ialah, cuba memurnikan hati dengan menerima kesilapan orang lain sebagai pengajaran dimasa akan datang… bukan sebagai hukuman.

CINTA yang hanya wujud tetapi tidak mungkin bersatu jasad. Cinta lama yang kembali bergema dihati ini. Gembirakah hati ini bila mengenang sesuatu yang telah pergi dari hati ini!...

KERANA cinta itu bukanlah sesuatu yang kita pinta. Semuanya lahir dengan kehendakNya Yang Maha Esa. Kehendak yang hanya datang dan pergi dengan izin daripadaNya.

AKU tanpa cintaMU

AKU tanpa cintaMU

Telah ku mungkiri janjiku lagi
Walau seribu kali
Ku ulang sendiri
Aku takkan tempuh lagi
Apakah kau terima cintaku lagi
Setelah ku berpaling
Dari pandanganMu
Yang kabur kerna jahilnya aku

Mengapa cintaMu tak pernah hadir
Subur dalam jiwaku
Agarku tetap bahagia
Tanpa cintaku tetaplah Kau di sana
Aku tanpa cintaMu
Bagai layang-layang terputus talinya

Telah ku mungkiri janjiku lagi
Walau seribu kali
Ku ulang sendiri
Aku takkan tempuh lagi
Apakah kau terima cintaku lagi
Setelah ku berpaling
Dari pandanganMu
Yang kabur kerna jahilnya aku

Masihkah ada sekelumit belas
Mengemis kasihMu Tuhan
Untukku berpaut dan bersandar
Aku di sini kan tetap terus mencuba
Untuk beroleh cintaMu
Walau ranjaunya menusuk pedih